Frase "survival of the fittest" sebenarnya dicetuskan oleh Herbert Spencer, seorang filsuf, sosiolog, dan naturalis Inggris abad ke-19, setelah membaca buku Charles Darwin, "On the Origin of Species".

Namun, ini bukan sekadar penjiplakan. Spencer memperluas konsep evolusi Darwin ke ranah sosial, mengemukakan bahwa prinsip seleksi alam dan "yang terkuat yang bertahan" berlaku tidak hanya pada biologi, tapi juga pada struktur dan perkembangan masyarakat.

Teori Survival of the Fittest Menurut Herbert Spencer

Ide utama teori Survival of the fittest dalam konteks sosial adalah:

1. Kompetisi

Individu dan kelompok dalam masyarakat berpartisipasi dalam "kompetisi" untuk akses ke sumber daya, kekuasaan, dan status.

2. Adaptasi

Kelompok atau individu yang paling mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan memanfaatkan sumber daya akan lebih mungkin "bertahan" dan berkembang.

3. Progres

Secara keseluruhan, masyarakat akan bergerak menuju bentuk yang lebih kompleks dan efisien melalui proses seleksi sosial ini.

------

Pengaruh dan Kritik

Teori Spencer berpengaruh pada perkembangan sosiologi dan ekonomi awal, memicu perdebatan tentang peran persaingan dan individualisme dalam kemajuan masyarakat. Teori ini juga banyak dikritik karena:

1. Potensi ketidakadilan

Mengabaikan faktor-faktor sosial dan ekonomi yang mempengaruhi kompetisi, berpotensi membenarkan eksploitasi dan ketimpangan.

2. Kurangnya bukti empiris

Sulit diuji secara empiris dan cenderung bersifat deterministik, mengabaikan peran kehendak bebas dan kreativitas manusia.

3. Mengabaikan kerjasama

Relevansi konsep kompetisi dipertanyakan karena banyak kemajuan manusia juga tercapai melalui kerjasama dan solidaritas.

----

Penting untuk dipahami bahwa teori Survival of the Fittest, terutama dalam konteks sosial, harus dilihat dengan kritis dan tidak dianggap sebagai kebenaran universal. Terdapat aspek-aspek positif dan negatif yang perlu dipertimbangkan dan dikaji lebih lanjut.